Restoran cepat saji adalah pilihan tempat makan praktis dan efisien, terlebih bagi konsumen yang tidak memiliki banyak waktu untuk memasak. Namun, pernahkah terpikir, kenapa restoran cepat saji kebanyakan menggunakan cat berwarna merah dan kuning dibanding dengan warna lain? Rupanya, hal ini terjadi bukan tanpa alasan. Pemilihan warna merah dan kuning adalah taktik perusahaan makanan untuk memengaruhi psikologi pelanggan dan mampu bertahan secara halus di alam bawah sadar selama bertahun-tahun, dilansir dari Insider, Rabu (12/1/2022).

Menurut psikologi warna, merah memberikan arti keinginan, kekuatan dan cinta. Pada umumnya, restoran cepat saji menggunakan warna ini sebagai warna dasar mereka. Sedangkan warna kuning dapat diartikan dengan perasaan puas, bahagia, kompeten dan kenyamanan.

Baca juga: 4 Cara Membuat Rumah Anda Lebih Ramah Lingkungan

Selain itu, warna kuning juga menggambarkan perasaan nostalgia serta keramahan, sehingga sering kali perusahaan makanan memilih warna kuning untuk logo mereka. Pakar pemasaran menyebut pasangan kedua warna ini sebagai The Ketchup and Mustard Theory yang merupakan pilihan bagus untuk memunculkan selera makan pada konsumen. Tidak hanya itu, kombinasi warna merah dan kuning mampu memengaruhi alam bawah sadar manusia untuk menghentikan kegiatan dan fokus untuk makan. Warna-warna ini tidak hanya mewakili bumbu lezat pada makanan, tetapi juga membawa kehangatan yang dirasakan saat makan bersama-sama.

Sementara, bagi restoran yang menjual makanan yang lebih sehat, warna hijau dapat menjadi pilihan untuk memperkuat pesan kesehatan. "Jika Anda adalah bisnis makanan kesehatan, Anda pasti ingin memilih pilihan yang memperkuat pesan Anda seperti nuansa hijau dan warna bersahaja,” jelas penasihat pemasaran dan pendiri Business Academy, Nikki Hesford. Membahas lebih lanjut mengenai pemasaran, warna ternyata memainkan peran utama pada pemasaran, terlebih pada industri makanan. Ini mampu menghubungkan orang-orang melalui segi emosional, menciptakan cerita, memanfaatkan harapan secara tidak sadar. “Apakah kita menyadarinya atau tidak, warna memiliki konotasi dan kami membuat penilaian langsung berdasarkan itu,” pungkas Hesford.

Sumber: Kompas.com